Doubtful Debate

Belum lama ini saya menanyakan kepada seseorang tentang sebuah komunitas debat yang dulu rajin disambanginya, bahkan komunitas itu sempat menjadi lingkaran terdekatnya dalam beberapa masa..kenapa saya tertarik untuk menanyakan hal ini, karena saya sedikit jengah dengan beberapa tayangan di TV tentang debat-debat yang tidak berujung pada sebuah solusi konstruktif, yang seolah-olah cuma menjadi ajang adu retorika belaka dari beberapa kepentingan.

dan pertanyaan itu pun mendapat jawaban, memang kata beliau, sebuah debat ‘hanya’ ditujukan untuk melatih public speaking, kemampuan berdiplomasi dan kemampuan tampil, bukannya untuk mencari solusi, karena memang sejak awal bukan itu lah tujuan lomba debat. dan bisa kita lihat kebiasaan itu pun menjalar ke level-level yang lebih tinggi, level dewan misalnya.

saya jadi ingat cerita salah satu kawannya Bang Anis Matta dulu waktu di IPM, yang sedang mengikuti training kepemimpinan, disitu ada sebuah pertanyaan menarik untuk diperdebatkan, begini pertanyaannya “Ada seorang kader baru keluar dari training tengah malam, tiba-tiba dia ditelepon bahwa ibunya sedang berada dalam sakaratul maut, dia pacu motornya, tetapi tiba-tiba ada lampu merah, tidak ada polisi, menurut anda apakah dia harus menerobos lampu merah itu?atau tetap berhenti, tapi kalo bertahan, situasinya bakalan gawat, dan mungkin dy tidak sempat bertemu dengan orang tuanya”

Kemudian para peserta berdebat sengit luar biasa, bahkan sampai berjam-jam, bahkan hingga instruktur tertawa, menertawakan kekonyolan yang sedang terjadi. Memang saya akui banyak hal-hal yang dipelajari, seperti keberanian dan sebagainya, tapi sejak awal peserta tidak diajarkan untuk berpikir besar, permasalahan yang dibahas pun masih remeh-temeh, kenapa? karena sejak awal yang dilatih adalah teknik berdebat.

Jadi disitu orang belajar tentang retorika, public speaking dan seterusnya, namun (more…)

Advertisements

semua kembali padaNya

Innalillahi wa inna ilaihi raji’uun..

telah berpulang ke Rahmatullah, Imam Samudra, Amrozi dan Mukhlas..


terlepas dari kontroversi mereka dan perbuatan khilaf yang mungkin pernah mereka lakukan, mereka tetaplah bagian dari persaudaraan Islam ini..

mari sejenak kita kirimkan do’a..semoga ALLAH menerima mereka bertiga di sisiNya..

amiin..

Memaknai Persahabatan

*) Postingan ini diinspirasi oleh seorang sahabat yang kmren masih berkenan mengantarkan saya ke RS malam-malam untuk berobat, walaupun sahabat saya ini pun sudah sangat kelelahan..Thx My BigBro..dan gambar ini nggak ada hubungannya sama sekali sama sahabat saya itu..gambar ini cuma gambar lama yang nggak tau kenapa pengen saya liatin hehehe

ngomongin soal persahabatan, saya jadi inget sms dari teman saya ini, sms yang menggelitik dan nakal, cuman paling nggak bener-bener memancing senyum bahkan tawa

Friendship is like peeing in your pants

Everyone can see it

But only you can feel its true warmth

Thanks for being pee in my pants

Hehehe..saya jadi geli sendiri kalo membaca sms ini..

Kehangatan khas persahabatan itu memang kadang hanya kita sendiri yang bisa merasakannya, bahkan saat semua orang bisa melihatnya, bisa jadi orang melihat persahabatan kita dengan sahabat kita itu terasa akrab dan menggelora, walaupun pada kenyataannya kita merasakan hampa disitu

Sebaliknya, bisa jadi persahabatan kita dan sahabat kita terasa garing, jarang bertemu, jarang ada tawa, tapi bisa jadi pula kehangatan yang kita rasa saat bertemu dengannya

dalam suatu bukunya, GUE NEVER DIE, Ustadz Salim A. Fillah pernah bercerita tentang level-level persahabatan, tentang sejauh mana cara kita bersahabat, dan beliau membaginya menjadi 4 level persahabatan , yaitu (more…)

Amor Vincit Omnia

Amor vincit omnia..Love conquers all.

CInta akan menaklukkan segalanya..

di sini cinta ‘berbicara’ menjadi sang penakluk, yang ditaklukkan pun bukan hanya gunung ‘tuk didaki atau lautan ‘tuk diseberangi, bahkan lebih dari itu semuanya, seringkali jiwa lah yang dibuat takluk oleh cinta, seperti kata Kahlil Gibran :

“Bila cinta memanggilmu

ikutlah meski jalan yang kalian tempuh terjal dan berliku

dan bila sayap-sayapnya merengkuhmu,

pasrah dan menyerahlah meski pedang yang tersembunyi di balik sayap itu akan melukaimu”

Ketika jiwa sudah takluk, maka semua anggota tubuh akan tunduk menarikan buaian melankolik, seperti Jiwa Romeo dan Juliet, yang mengkanak-kanak cengeng, mungkin saja lautan terseberangi, mungkin gunungnya yang tinggi terdaki, tapi jiwa mereka takluk menunduk, Romeo tampak tolol di hadapan Count Paris, rivalnya, dan lemas tak berdaya di depan Tuan Besar Capulet, dan dia pun mengecewakan Pastor Lorenzo dengan keputusasaannya, hingga akhirnya jiwa yang takluk oleh cinta itu tak jauh dari quote terkenal Ti Pat Kai, babi gendut sahabat Sun Go Kong si Kera Sakti

“Dari dulu beginilah cinta, deritanya tiada akhir”

Gangguan jiwa ala Romeo ini dijelaskan oleh Ustadz Fauzil ‘Adzim dalam (more…)

Mencari Cahaya

“Memegang agama ini di saat sekarang ini, bagaikan memegang bara api, semakin kau pegang kuat, semakin panas terasa, tetapi jika kau lepaskan, maka cahaya itu akan hilang” – Anonymous

kalimat di atas masih selalu terngiang-ngiang di kepala saya hingga detik ini, kalimat yang bercerita tentang pentingnya untuk tetap istiqamah beriman di jalanNya, meskipun harus tertatih-tatih dan terluka.

Apa pasal?

Seorang kawan pernah bercerita, bahwa bersyukur itu tidak cukup dengan berterima kasih saja pada Tuhan, tidak cukup dengan mengucap “Alhamdulillah” saja kepada Tuhan, rasa syukur itu harus dibuktikan, harus dijalankan dengan menjalankan perintah-perintahNya, harus diikuti dengan ketundukan mengabdi kepadaNya, dengan tulus dan ikhlas

Begitu juga cinta..

Pernahkah kawan kita berpikir, bagaimana kita membuktikan cinta padaNya?

seorang Ibrahim alaihissalam telah memberikan kita banyak pelajaran tentang pembuktian cinta, seorang ayah yang telah meninggalkan lama anaknya hingga pada akhirnya dipertemukan, belum cukup waktu untuk rindu tercurah, sudah diperintah lagi untuk menyembelih anak tercinta itu..sungguh bisa kah kau bayangkan betapa berat ujian itu?

apakah Ibrahim a.s ikhlas? (more…)

Sang Guru

Tergagap aku…

itu kali pertama aku berdiri di depan makammu, semua do’anya sudah kuhafal..tetap saja aku tergagap..hanya butir-butir waktu seribu lima ratus tahun yang terangkai-rangkai dalam untaian tari di pelataran kalbu..sebab serumulah yang membawaku kesini

Berdiri! berdirilah saudaraku! beri hormat pada lelaki ini! Berdirilah! ucapkanlah shalawat untuknya. Dialah tuan seluruh anak cucu Adam. Dialah pemimpin semua Nabi dan Rasul. Dialah yang hadir di penghuju sejarah Persia dan Romawi, di waktu kedua imperium itu mendekati jurang. Dialah yang menyelamatkan manusia dari kehancuran.

Dialah sang guru, Coba cari semua sisi kepahlawanan pada semua pahlawan yang mengisi ruang sejarah. lalu kumpulkan semuanya. Nanti kau temukan semua itu dalam diri sang guru yang terbaring tenang di hadapanku ini. kebaikan yang berserakan pada seluruh pahlawan menyatu ajeg dalam dirinya sendiri

Sendiri pada mulanya dia menyeru, Lalu lebih dari seratus ribu sahabat yang ia tinggalkan saat wafat, sendiri pada mulanya ia melawan. lantas ada enam puluh delapan pertempuran yang ia komandani. Tak punya apa-apa saat ia lahir.Lalu ada kekuasaan seluruh jazirah Arab yang ia wariskan saat ia wafat.

tapi apa yang lebih agung daripada itu adalah seruannya. sampai juga akhirnya cahaya itu pada kita. sekarang ada lebih dari satu koma tiga milyar manusia muslim yang menyebut namanya setiap saat. Seperti kakeknya, Ibrahim, yang pernah berdo’a : hadirkanlah segenap jiwa muslim ini ke rumahMu ya ALLAH! seperti itu jua ia berseru : jumlahmu yang banyak itu lah kebanggaanku di hari kiamat.

Cinta, itu lah sebabnya, Ia mencintai semua manusia. Ia mau melakukan apapun untuk menghadirkan damai, selamat dan bahagia bagi manusia. Cintalah yang membuatnya mampu menampung segala keluh di dalam hatinya. Di hatinya yang lapang engkau boleh menumpahkan segala keluh dan harapmu, makin lama kau di sisinya, makin dalam cintamu padanya. waktu lah yang akan membuka tabir keagungannya satu-satu padamu.

Mungkin bukan itu benar yang membuatnya jadi teramat agung. Ada yang lebih agung dari sekedar itu. Ia bukan hanya hebat.bukan hanya pahlawan. Dia juga melahirkan banyak pahlawan. Dia tidak hanya menjadi sesuatu. Dia juga menjadikan orang lain di sekitarnya sesuatu, Orang lain hanya jadi pahlawan, orang-orang lain hanya mencatat kepahlawanannya, mereka tidak menjadi apa-apa.

Bangkit di tengah orang-orang yang buta huruf, berserakan, nomaden, tidaklah mudah meyakinkan mereka menerima apa yang dia bawa. Menyatukan mereka apalagi. Menjadikan mereka pemimpin apalagi. Tapi begitulah kejadiannya : ia merakit kembali kepribadian mereka, menyatukan mereka. Lalu jadilah para penggembala kambing itu pemimpin-pemimpin dunia. Pada mulanya adalah embun, Laut kemudian akhirnya. Dari embun ke laut : terbentang riwayat kepahlawanan yang agung.

“Assalamu’alaika Ya Rasulullaaah..”

– dikutip dari “Mencari Pahlawan Indonesia” – Anis Matta