Category: Guyon

hahahaha..

Sarung : sebuah kenyamanan

Terinspirasi dari tetangga sebelah, yang bercerita mengenai daster, saya jadi teringat akan sebuah barang, berupa kain lebih tepatnya, yang masih satu famili dengan daster, yaitu sarung

Kalo daster dipake kaum hawa, maka sarung ini lebih sering dipake kaum Adam, walaupun sebenarnya kaum hawa juga banyak siy yang make

Kenapa sarung? nikmatin lagi nyamannya bersarung

2=1 the proof

Perhatikan gambar di bawah ini

the proof

hmm..kira-kira dimana ya letak salahnya..?

 

 

Godeg-Gedak-Gecak – sebuah riset

Godeg, Gedak, Gecak dan segala jenis variant-nya telah jadi kosakata baru di kalangan anak-anak eks-KOMSI 2003, khususnya bagi mereka yang berkecimpung dan aktif terlibat bergumul dengan eks-9C.

Entah dari mana asalnya istilah ini muncul, diawali dengan doktrin-doktrin istilah-istilah busuk dari opa EGi (yang lebih dikenal dengan nama Delon) seperti “tampang doank”, “delon”, dsb. Berikut penambahan beberapa istilah oleh Dec0 seperti “nempe” dsb akhirnya terciptalah kata GOdeg. baca selengkapnya

polisi koq nyogok supir..?

Sopir ”menyuap” polisi, itu biasa. Tapi kalau polisi ”menyuap” sopir, lha itu baru luar biasa.
Kejadian yang makewuhke ini dialami oleh sohib kita Jon Koplo kira-kira dua tahun lalu.
Koplo yang berprofesi sebagai sopir antar jemput anak-anak sekolah TK ini mempunyai banyak pelanggan anak-anak yang orangtuanya dari berbagai profesi. Ada yang jadi guru, pedagang, pegawai, polisi dan lain sebagainya. Tapi kebanyakan yang mengurusi anak yang ikut antar jemput adalah sang ibu, termasuk memberi amplop bayaran tiap bulannya, sehingga Koplo lebih banyak srawung dengan ibunya anak-anak daripada dengan bapaknya. Pagi itu Koplo dengan penuh semangat dan wajah berseri-seri berangkat kerja menjemput anak-anak.
Maklum, waktu itu awal bulan, saatnya Koplo terima bayaran dari ibunya anak-anak. Nah, salah satu anak yang diantarnya bernama Genduk Nicole.
Ia adalah anak seorang polisi lalu lintas yang bertampang agak serem bernama Tom Gembus, dan punya isteri yang lumayan cakep bernama Lady Cempluk. Sesampai di depan rumah Tom Gembus, Koplo menunggu keluarnya Lady Cempluk, tentunya sambil membawa amplop berisi bayaran. Apalagi biasanya Bu Cempluk ini sering memberi bonus atau tip.
Namun apa yang terjadi Saudara-saudara? Setelah mengantarkan Nicole masuk ke dalam mobil jemputan, Lady Cempluk bilang, ”Berangkat Pak Koplo.”
Jon Koplo yang tangannya sudah ngathung jadi agak kaget dan sedikit bengong.
”Lho, kok nggak dikasih amplop? Lali pa ya? Tapi Bu Cempluk ini biasanya disiplin dan tepat waktu,” batin Koplo.
Dengan hati agak gundah Jon Koplo langsung tancap gas menuju jalan raya. Ketika Jon Koplo melihat kaca spion mobil, di belakang nampak ada seorang polisi yang mengejarnya. Karena merasa tidak bersalah dan tidak melanggar rambu lalu lintas, Koplo cuek saja dan tambah ngebut.
Tapi polisi itu juga tambah tancap gas mengejar mobil Koplo. Setelah berhasil mendekati mobil Koplo, polisi itu menyuruh Koplo berhenti. Tentu saja Koplo kaget campur mangkel. ”Esuk-esuk wis golek perkara…” batinnya.
Dengan hati dongkol ditambah malu plus kesal karena banyak dilihat orang, Koplo bertanya, ”Salah saya apa sih Pak? Kok saya disuruh berhenti?”
Pak polisi turun dari sepeda motor dan membuka helmnya. Koplo sempat tercengang, sepertinya dia pernah kenal dengan Pak Polisi ini.
”Maaf Pak Koplo, saya Tom Gembus, suaminya Lady Cempluk. Saya disuruh isteri saya memberikan amplop ini. Tadi ia lupa ngasih-kan ini pada Pak Koplo…” Mak plooong hati Koplo lega. Akhirnya dapat juga amplop yang diharapkan.

Kiriman Sutardi, Badranasri RT 02/RW 11 No 135, Cangakan, Karanganyar 57712.

taken from : Ah tenane SOLOPOS.co.id 28 Sept 2006 03:42 p.m