Category: Bal-Balan

do u football enough??

futsal competition (part.2)

Brave ArRahman finally lose..!

Ya, setelah berjuang mati-matian di pertandingan penentuan melawan tim AnNuur, akhirnya kmren kami dengan lapang dada harus menerima keunggulan lawan dengan skor tipis 2-1

pada awalnya pertandingan berjalan normal, AFC bahkan sempet leading duluan lewat gol Ian Shinchan di akhir babak pertama, tapi kemudian baca..baca..

futsal competition (part 1)

Haah setelah hampir seminggu kemaren berlatih keras pagi sore siang malam tanpa henti, akhirnya hari pertandingan itu dateng juga, kami dijadwalkan maen hari Minggu, 12 Agustus jam 15.30 di lapangan UMY, dalam rangka kompetisi futsal antar boarding house seluruh Jogja

Pertama liat hasil drawing, sempet ngeper dikit, pasalnya nama tim lawan sangar betul : ANKER B , langsung kebayang muka-muka preman setempat yang bersiap melibas dan mematahkan kaki-kaki kami hehehe…

ternyata prediksi saya nggak salah-salah banget, walaupun lanjutin bacanya

Welcome back to Manahan

Welcome to Solo, Welcome to Manahan, Experience it Live!!

Manahan bergolak lagi, ya setelah beberapa waktu kemaren sepi karena libur jeda kompetisi akhirnya PerSIS Solo kembali bertanding di Manahan

Partai pertama yang digelar kmren sebenarnya bukan partai besar, lawannya juga cuma PSIM Jogja, tapi yang bikin saya pulang khusus buat nonton tu adalah lanjutin bacanya

Return of the King

 

back to serie-a

Kemenangan gemilang 5-1 lawan Arezzo akhirnya bikin Juve kembali ke habitat aslinya, yaitu Serie-A, kepastian ini didapat setelah poin Juve udah nggak mungkin terkejar lagi oleh pesaing-pesaingnya

Bagi para Juventini (termasuk saya), hasil ini jadi jawaban atas semua penantian panjang setahun ini, jujur selama semusim Serie-A tahun ini, saya sama sekali tidak menyaksikan satu pertandingan pun, kenapa? lanjutkan bacanya

Menang lagi!!

Persis Solo 2-0 Persiba Balikpapan

Persis Solo 2-0 PKT Bontang

Nah sebuah kerja maksimal dari pakde Harno dalam dua laga kandang, memang begitu seharusnya permainan Persis yang sebenernya, ngotot dan tak kenal lelah, maen umpan pendek kaki-ke-kaki yang diakhiri dengan thru-pass ke sayap kiri biar si GreGoal ‘bergoyang’ menggocek bek-bek lawan sampe terbirit-birit..

Kerja keras Rudy Widodo akhirnya terbayar lunas lewat 1 gol pas lawan PKT, semangat tak kenal lelah, dan determinasi tinggi akhirnya bikin Rudy jadi pahlawan sore itu..walopun posturnya gak gitu pas buat jadi bomber, akhirnya semangat itu lah yang menjawabnya..

lawatan ke Pasuruan minggu depan bakalan jadi arena pembuktian konsistensi Persis, kalo memang mau masuk SuperLiga musim depan, memang harus konsisten. Finishing touch jadi hal penting buat diasah bener-bener, biar lagi-lagi nggak bergantung di duet GreG-Rudy aja..bakalan keren kalo Busto or Alvin Kie bisa maksimalin long-shot ke arah gawang, apalagi kalo Greg dah mulai kewalahan

Maju terus PERSIS Solo-ku..aku neng mburimu

“Kita dukung Persis SOLO kita

sekarang dan selamanya

Persis SOLO memang untuk anda”

satu poin yang berharga

PerSIS SOLO 0 – 0 PSIM Jogja

wah rasanya lega banget ngeliatin hasil ‘kacamata’ yang diraih oleh Laskar Sambernyawa kmren sore pas tandang ke Mandala Krida, gimana enggak?abis dibantai abis2an di papua kmren, rasanya satu poin di Jogja sedikit memberi angin segar.

‘Hebat’nya lagi, walopun dapet hadiah penalti, PSIM teteep aja gak bisa menang..padahal mereka dah didukung ribuan suporternya (yang nggak ngasi ijin Pasoepati hadir ke Jogja, dengan alesan tempatnya gak cukup), blocking sempurna dari Wahyu bener2 bikin ribuan Brajamusti nangis, lengkap dah penderitaan PSIM di dasar klasemen sementara wilayah timur..

Nah, dengan satu poin kmren, setidaknya PerSIS bisa menata kembali kepercayaan dirinya, sebelum menghadapi pertandingan-pertandingan selanjutnya, yang jelas bakalan jauh lebih berat daripada yang udah2..

PerSIS harus lebih siap tentunya, buat sapu bersih 3 poin di kandang, biar tujuan lolos ke Liga Super tahun depan bener-bener jadi kenyataan..

“It is easy to be a nice guy

follow me..follow Pasoepati”

The ReDs of SOLO

abang-abang iku dudu setan
pasoepati edan tapi mapan
kaos abang sing duwe Manahan
Wong Solo sing terkenal sopan….”

kmren rasanya semua rindu itu terobati, penantian panjang selama 40 tahun akhirnya terbayar lunas

Ya kembalinya Laskar Sambernyawa ke kasta tertinggi persepakbolaan Indonesia telah lama dirindukan dan dinantikan oleh segenap warga Solo, tim bond kebanggaan warga Solo yang sudah berpuluh-puluh tahun berkubang di divisi satu dan dua akhirnya kembali ke kasta sebenarnya, Divisi utama

Pesta kembalinya si merah ke divisi utama bertepatan dengan ulang tahun Pasoepati yang ke-7, hampir 25,000 suporter yang tergabung dalam PAsoepati memenuhi semua space di Manahan, pemandangan yang sudah lamaaa sekali tidak terlihat.

dan kami kembali bernyanyi, berjingkrak menyuarakan dukungan total untuk PerSis, yang akhirnya terbayar dengan kemenangan PerSis lewat gol tunggal GreG Nwokolo.

aku bener2 sudah lupa kapan terakhir nonton di tribun suporter, tapi pengalaman kmren tuh bener2 nendang dah..sumpah seru banget, kami nyanyi bareng, lompat2 bareng, pelukan (entah sama sapa?) kalo pas Gol, misuh2 kalo pas wasit curang, makan bareng pas break half-time..wah asiiiik lah pokoke..

Makanya, jangan cuma bisa nonton di TV, Rasakan atmosfer sebenarnya di lapangan

Welcome to Solo..Welcome to Manahan..Experience It Live!!!

“Laskare..Laskare Pasoepati..idolaku gagah simpati
Tunjukkan Prestasimu..libaslah musuhmu..PerSIS SOLO aku neng mburimu”

Serie-A is dead?!

“Riset majalah ini menuliskan bahwa sepanjang musim 2006/2007 ini rata-rata penonton baru 19.361 orang, ini adalah angka terendah dalam 40 tahun terakhir, Uniknya, rata-rata penonton ini menyusut hingga sekitar 10 ribu orang dibandingkan dengan pada 10 pertandingan awal Serie-A satu dekade lalu. Tak heran mengapa hingar bingar penonton kian sirna dari bangku penonton di setiap laga Serie-A terus mengalami penurunan”
BOLA-Vaganza No. 62 edisi Desember 2006

Ya, musim 2006/2007 ini dapat dikatakan sebagai titik nadir perkembangan salah satu liga (yang dulunya) dianggap sebagai liga terbaik di dunia, minimnya persaingan antar klub, menurunnya jumlah penonton yang hadir ke stadion, dan tentunya dominasi total dari satu klub saja.
Kalo mau diurutin, ini adalah salah satu efek dari calciopoli, kasus paling memalukan dalam sejarah perkembangan sepakbola Italia, yang sudah bikin Liga Italia kehilangan sentuhan magisnya, liat aja dari hukuman yang diberikan terhadap tim-tim, ada yang terkena pengurangan poin, namun ada juga yang harus rela diturunkan ke Serie-B
Dominasi Inter dalam musim 2006/2007 serta menukiknya prestasi tim penuh tradisi sekelas AC Milan benar-benar membuat musim kali ini menjadi sangat membosankan, lesunya gairah di bursa transfer, dan meningkatnya popularitas liga-liga saingan seperti Premiership dan La Liga menambah keterpurukan Serie-A yang dulunya selalu dijadikan acuan dalam perkembangan liga-liga dunia lainnya, salah satu faktor utama dalam kemunduran ini adalah terdegradasinya salah satu tim langganan juara Serie-A yaitu Juventus
Hilangnya Si Nyonya Besar dari persaingan Serie-A benar-benar mengurangi atmosfer persaingan di Serie-A, di sisi lain, jumlah penonton dan tingkat persaingan di Serie-B menjadi memanas, menurut riset, antusiasme penonton di Serie-B meningkat secara signifikan, membeludaknya jumlah penonton tuan rumah saat tim kesayangan mereka tampil menghadapi Juventus dapat dilihat sebagai bukti memanasnya Serie-B, karena mungkin tidak setiap musim mereka dapat melihat permainan Del Piero dkk di stadion kebanggaan mereka
Milan kehilangan rival terberat mereka dan Inter melenggang tanpa lawan (walaupun mereka akan ‘merindukan’ Derby d’Italia yang kini tinggal sejarah), dan mendominasi penuh musim ini, sangat disayangkan ‘pesaing-pesaing’ seperti Roma dan Lazio ternyata tidak bisa berbuat banyak selain menjadi pecundang (lagi). Musim ini juga menjadi arena kebangkitan tim-tim medioker yang pada tahun-tahun terdahulu hanya bisa menjadi pecundang Juve, Milan maupun Inter.
Tak bisa dipungkiri, terlepas dari segala ‘konspirasi’ yang mungkin terjadi dalam kasus calciopoli, pengaruh dari absennya tim dengan jumlah fans terbesar di Italia ini benar-benar membuat perbedaan besar di Serie-A.
Apakah musim depan Liga Italia akan kembali semarak dengan Squadra Bianconeri?! Mari kita tunggu..

Nasib Timnas Kita

Permainan fantastis timnas senior Indonesia saat berlaga di partai menentukan melawan Singapura ternyata tidak berarti apa-apa, skor imbang 2-2 di akhir pertandingan kembali memupuskan harapan para pendukung sepakbola di negeri ini untuk menjuarai piala AFF, lemahnya semangat juang dan rendahnya konsentrasi para pemain pada 2 pertandingan sebelumnya ditengarai sebagai penyebab ketidaklolosan tim merah putih ke laga selanjutnya, Namun mengapa selalu demikian?
Para pemain kita sudah terlanjur besar kepala saat menghadapi Laos, sejarah 6-0 di Piala Tiger 2004 membuat mereka berpikir Laos adalah lawan mudah untuk ‘dibantai’, kenyataannya? justru Indonesia dipermalukan duluan lewat gol serangan balik yang membobol perangkap offside yang gagal diterapkan anak-anak asuhan Peter Withe – yang skema 4-4-2-nya – masih mengkhawatirkan, meskipun pada akhirnya membalikkan keadaan melalui Saktiawan Sinaga dan 2 gol dari Atep, pertandingan yang harusnya dapat dimenangi timnas dengan selisih gol yang besar ternyata harus berakhir dengan skor hanya 3-1
Begitu juga pada pertandingan melawan Vietnam, Kita harus menunggu hingga menit ke-90 untuk memastikan timnas terhindar dari kekalahan, timnas seharusnya dapat belajar dari pertandingan sebelumnya. Rasa puas diri telah membuat timnas kehilangan gairah untuk MeNaNg, sangat disayangkan pelatih asing yang telah dibayar mahal itu hanya bisa mengingat kisah suksesnya dengan timnas Thailand beberapa tahun terdahulu, tanpa pernah bisa mengulanginya di Indonesia, berbagai alasan seputar Indonesia, mulai dari rendahnya kualitas pemain, buruknya pengelolaan kompetisi dan minimnya disiplin kembali diusung untuk menjadi kambing hitam, yang sayangnya (kali) ini sudah cukup membuat kita muak.
PSSI sudah sepantasnya mengambil langkah tegas terhadap pelatih yang tidak bisa mengangkat prestasi timnas – setelah semua hal yang telah diberikan PSSI kepadanya – dan mulai belajar dari kesalahan-kesalahan yang ada untuk selanjutnya bersikap lebih tegas dan jelas
Proyek-proyek instan macam timnas U-23 yang telah menghabiskan miliaran rupiah ternyata juga tidak berdampak signifikan kepada peningkatan prestasi, harusnya ada pertanggungjawaban kemana larinya uang sebanyak itu, yang seharusnya dapat dimanfaatkan untuk membenahi kualitas kompetisi atau membenahi sektor-sektor penting lainnya,
Kalau tidak segera dibenahi, mungkin kita masih harus menunggu lebih lama (lagi) untuk munculnya prestasi persepakbolaan Indonesia.

Yaah..lagi-lagi kita hanya bisa bermimpi, setidaknya hingga saat ini