Mencari Cahaya

“Memegang agama ini di saat sekarang ini, bagaikan memegang bara api, semakin kau pegang kuat, semakin panas terasa, tetapi jika kau lepaskan, maka cahaya itu akan hilang” – Anonymous

kalimat di atas masih selalu terngiang-ngiang di kepala saya hingga detik ini, kalimat yang bercerita tentang pentingnya untuk tetap istiqamah beriman di jalanNya, meskipun harus tertatih-tatih dan terluka.

Apa pasal?

Seorang kawan pernah bercerita, bahwa bersyukur itu tidak cukup dengan berterima kasih saja pada Tuhan, tidak cukup dengan mengucap “Alhamdulillah” saja kepada Tuhan, rasa syukur itu harus dibuktikan, harus dijalankan dengan menjalankan perintah-perintahNya, harus diikuti dengan ketundukan mengabdi kepadaNya, dengan tulus dan ikhlas

Begitu juga cinta..

Pernahkah kawan kita berpikir, bagaimana kita membuktikan cinta padaNya?

seorang Ibrahim alaihissalam telah memberikan kita banyak pelajaran tentang pembuktian cinta, seorang ayah yang telah meninggalkan lama anaknya hingga pada akhirnya dipertemukan, belum cukup waktu untuk rindu tercurah, sudah diperintah lagi untuk menyembelih anak tercinta itu..sungguh bisa kah kau bayangkan betapa berat ujian itu?

apakah Ibrahim a.s ikhlas?

lancang sekali rasanya kalo saya berani berkata bahwa beliau tidak ikhlas, sekarang..apakah Ibrahim a.s rela?

rasanya, dilihat dari sudut pandang sebagai seorang manusia dan seorang ayah, saya yakin Ibrahim tidak rela, bagaimana rela ketika baru saja dipertemukan sudah diperintahkan untuk menyembelih?

Hingga setelah anak itu diperbaringkan, Ibrahim pun mengangkat pedangnya ke langit dan berkata “Lihat Ya ALLAH, hari ini aku buktikan bahwa tidak ada yang lebih aku cintai daripada Engkau..Lihaatttt Ya ALLAH”..

dan ketika pedang itu pun hampir mendekat pada leher Ismail, maka ALLAH menggantinya dengan seekor hewan sembelihan yang besar dan saat itu lah nyata terlihat BUKTI CINTA Ibrahim kepada Tuhannya..

Ibrahim telah membuktikan bahwa dia telah menaklukkan ketidakrelaannya untuk menyembelih Ismail, karena beliau ingin membuktikan cintanya pada ALLAH adalah cinta tertingginya, dan beliau yakin pasti akan ada hikmah di balik semua amanah ini

dan kemudian ALLAH mengangkat derajatnya, menjadikannya sebagai Bapak Para Nabi, dan dari keturunannya kelak lahir seorang Nabi mulia yaitu Muhammad SAW

Ibrahim telah melampaui batas-batas seorang manusia biasa, menembus batas-batas logika dan terbang jauh ke titik KeYakinan, semuanya karena beliau Yakin, Yakin dengan ALLAH, Yakin dengan pertolonganNya..Yakin..Yakin..dan Yakin..

Ibrahim buktikan betul bahwa cintanya pada ALLAH itu murni, cintanya pada ALLAH itu ikhlas, dan cintanya itu abadi, melebihi cintanya pada anaknya, pada istrinya dan pada dunia.

Sahabat, dunia tempat kita berdiri sekarang sungguh penuh dengan tipu daya yang melenakan, penuh dengan bisikan-bisikan membius, penuh dengan ungkapan-ungkapan manis nan menjebak

di sisi lain, kita sebagai manusia tetap harus menjalankan segala perintahNya dan menjauhi segala laranganNya, sungguh-sungguh sulit sahabat..lalu apa yang akan membuat kita tetap bertahan?

Cahaya itu bernama Iman, cahaya itu lah yang akan menerangi jiwa, mengisi ruang-ruang kosong di dada, membuka mata hati yang lelap, menjawab qalbu yang resah, mencumbu mesra jiwa-jiwa yang kesepian, mengelus lembut, memanjai dan menutup luka-luka dari jiwa yang terkoyak..

Carilah cahaya itu bersama lantunan lembut dzikirmu, carilah cahaya itu bersama gerakan khusyuk shalatmu, bersama rintihan do’amu di tengah malam, bersama air mata yang menetes berharap ampunan, bersama sujud-sujud ikhlasmu di sepertiga malam terakhir..

Walaupun perih menyala, walaupun luka datang bersamanya, walaupun sesak menggelayuti dada..

Yakinlah..dan berjuanglah..

..dan bersama cahaya itu..mari kita buktikan cinta kita..

“Bahwa segenap persoalan hendaknya dihadapi dengan IMAN, Jangan menjatuhkan martabatmu sendiri karena gila harta, menyalahgunakan kekuasaan dan tidak dapat mengendalikan nafsu, maka insyaALLAH kita kita pasti akan berhasil dengan gemilang dalam menjalankan tugas” – Panglima Besar Jenderal Soedirman

*) dan inilah aku Yaa Rabbi..berusaha perlahan mendekatiMu, berjuang menundukkan ‘rasa’ yang berdentang bertalu-talu mengemuka, tertatih-tatih menggapai ridhaMu, kuatkan jiwa ini, teguhkanlah hati ini, bimbing hambamu ini Yaa ALLAH..

..Yaa Muqallibul Quluub..Tsabbit Qalbii ‘alaa Diinik..Akhrijnaa Ya ALLAh..Akhrijnaa Minadzulumaati ila Nuur..amiin

Advertisements

3 thoughts on “Mencari Cahaya

  1. amiiin
    “Katakanlah, ‘DIAlah ALLAH, Yang Maha Esa. ALLAH tempat meminta segala sesuatu. DIA tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan TIDAK ADA sesuatupun yang setara dengan DIA” ===== Al. IKHLAS…!

  2. .: Ade’ :.
    amiin..semoga kita mampu bersabar atas takdirNya,,dan selalu berdo’a semoga ALLAH tunjukkan jalan yang terbaik bagi kita ya de’..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s